Surat Cinta untuk Nisa Aminah











Untuk yang selalu menyayangiku, mengkhawatirkanku dan menasehatiku
Untuk yang selalu menyayangi ibuku, mengkhawatikannya dan menasehatinya.
Untuk yang selalu mengagumi, mengingatkan dan memberimasukan ke ayahku.
Untuk yang selalu bersabar dan bertawakkal dalam doa dan upayanya.
Untuk yang aku ingin engkau di sini melihat akhir perjuanganku yang jauh dari rumah
Untuk yang aku gembira bercerita pencapaianku meski belum tentu kau mengerti
Untuk yang menentramkan hatiku dikala aku berbeda pendapat dengan siapapun
Untuk yang selalu mendukungku sebagaimanapun semua orang meremehkanku
Aku baru sadar, sebegitu besar aku kehilanganmu, Nenek.

Besok, Ato seminar proposal Nek, satu momen lagi yang seharusnya Ato ceritakan pada nenek. Dua langkah terakhir sebelum Ato harus bertanggung jawab pada diri sendiri dan keluarga besar kita.

Ntah sudah siap atau belum, tapi mungkin cucu nenek ini sedang merasa ada yang kurang. Kekuatan besar dalam hidup cucu nenek ini seakan hilang dalam porsi yang cukup banyak. Pertolongan Allah melalui do'a-do'a tulusmu seakan sedikit luntur, bukan Ato menyangsikan semua pertolongan-Nya. Namun nasehat menyejukkan setiap hari itu yang Ato rindukan, nasehat yang meyakinkan sebagaimanapun Ato ragu pada diri sendiri.

Dua bulan sepertinya, setiap Ato menelepon ke rumah. Ingin sekali bertanya dan mengobrol seperti biasa dengan nenek. Namun setiap itu juga Ato sadar bahwa nenek sudah tidak di rumah lagi. Ah, cucu nenek ini sedang cengeng. Aku harus yakin, bahwa semua akan baik-baik saja jika kita berharap kepada Allah. Meyakinkan diri untuk selalu tenang dan berbuat baik pada semua teman akan selalu ingat dan lakukan.

Semua pasti sudah rencana Allah, satu-persatu kamipun akan menyusul.
Semoga nenek tenang dan pasti sedang asik menikmati indahnya alam kubur, bersama seorang teman yang wangi, dan indah parasnya. 

Seluruh doa untukmu dari Ato
Cucuang nenek paliang "Lombiak"

Surabaya,
Hari Pilkada DKI
Sehari Sebelum Sempro
Dua Bulan sejak kepergiamu
Semoga kita bertemu lagi
Di Jannah

Kari, Ayo Berbenah !


Aku sedang rindu pada bangunan 15 x 15 meter persegi itu. Saat itu riak dan hembusan angin Batang Kuantan menjadi saksi tapak-tapak kecil kami belajar mengaji, dimulai saat senja menjelang magrib hingga waktu isya'. Mesjid At-Taqwa, masih ada bekas sidik jariku di salah satu bata  penyusunnya, begitu juga dengan paku yang tertancap di atapnya itu, aku yang melemparnya satu persatu kepada tukang, sedangkan sisanya adalah pekerjaan teman-teman kecilku yang lain.

Kubah kecilnya kami beli di Kota Pekanbaru bersama ayah, naik mobil pick-up dan menempuh perjalanan 3 jam dari desa kecil kami. Hari libur adalah jadwalnya bergotong royong, menggosok pintu dan jendela yang berdebu, menyiangi rerumputan yang tumbuh diantara batu kerikil, dan setelahnya bermain gala-gala tor-tor di halaman dengan riang gembira. Ada banyak tawa, tangis dan pertengkaran di antara kami yang masih belia. Hari-hari dari pagi hingga senja selalu hidup, dimulai sejak shubuh hingga waktu isya'. Kenangan yang paling aku syukuri se-umur hidup.

Itulah suasana Kenegerian Kari dulu, namanya diambil dari kata Qori' yang bermakna "orang yang fasih membaca al-quran". Sebuah kampung yang dikenal cendekia dan taat beragama dibandingkan kampung-kampung lain di sekitarnya.

Sebuah kenangan saat aku masih asik bermain di sana, akulah yang paling tidak pandai mengaji, paling tidak pandai bermain bola kasti, pokoknya dalam setiap permainan aku dianggap anak bawang, anak paling cupu di antara yang lain. Ah, lucu sekali mengingatnya. Sebenarnya aku bukan tidak pandai bermain, namun lebih sering disuruh tidur siang daripada dibiarkan bermain oleh Ayah.

Padahal aku ingin sekali bermain bebas, keseruannya pasti tidak sebanding dengan leganya tidur siang. Belum lagi kalau sudah ada godaan suara teman-teman yang lewat depan rumah ketawa-ketiwi mau main ke ladang.

"Too, Atoo, ikut ke ladang ndak ? cari kayu *jalue-jalue ".

Ah, kalau sudah begitu aku mendadak kreatif di sela-sela tidur siang.

Contohnya seperti ini :

"Yah, Ayah ndak mau tidur siang sama abang ?" Teriakku dari kamar.

Ayah bakal tiduran di sampingku, membaca berbagai bacaan yang dibawanya dari sekolah. Buku dipegang dengan tangan kanan di atas dada supaya nyaman dibaca, keseriusan beliau membuatku berdebar-debar. Menunggu beberapa saat, semakin serius beliau membaca membuatku semakin senang, karena dalam beberapa hitungan saja sesuatu yang besar akan terjadi..

Satuu, duaa, tiga, taraaa...

Buku bacaan terjun bebas jatuh ke dada ayah, beliau tertidur pulas saat itu juga.

Waktunya kabur menyusul teman-teman di ladang.

Ah, indah sekali masa-masa itu. Kami menjadi anak baik di sore hari, dan sedikit nakal di siang hari. Ke mesjid belajar mengaji, pulangnya kami berkelahi. Meskipun sering disoraki karena aku lebih sering memilih melerai perkelahian daripada memanas-manasi, bahkan terkadang dibilang banci. Tapi bukan masalah, itulah momen terindah, yang akan selalu aku ingat tentang diriku dulu dan nanti.

Namun kegelisahan menghampiriku, satu dekade sejak aku belajar disana. Mesjid itu kini semakin megah, beberapa kubah ditambahkan dan halaman mesjid diganti semen. Namun bangunan megah itu sudah sunyi. Lima waktunya selalu hanya bersama orang-orang tua yang memang sadar sudah dekat dengan tanah.

Lalu dimana para pemuda-pemudi -nya ? ah, cinta mereka berpaling ke lapangan voli. Asik bermain bercelana kotok sambil ketawa-ketiwi. Menjalang menjalang kompetisi, dan meraih berbagai prestasi. Di sosial media, mereka sudah sibuk berselfie menunjukkan ketampanan dan kecantikan diri. Al-Qur'an adalah bacaan untuk orang tua dan anak-anak kecil saja. Mesjid, nanti saat udah mau mati aja. Mungkin kita berfikir mengikuti zaman, menjadi maju dengan berbagai pencapaian.

Ah, Kenegerian-ku, ganti saja namamu. Terlalu tinggi kau menyandang nama itu. Sejatinya kita tidak sedang maju, namun sedang mundur sedikit demi sedikit sebelum akhirnya tenggelam.

Apakah kita akan diam saja ?
Tentu tidak.
Kalaupun kau diam, aku tetap berkata tidak.
Kita harus berbenah,
Menjadikan Kenegerian Kari kepada makna sebenarnya,
Kalau bukan sekarang, munkin nanti.


*jalue-jalue : sebuah minatur jalur (perabuh besar), merupakan budaya masyarakat Kuantan Singingi

Intinya adalah !

Hasil gambar untuk waktu
Source : www.cermati.com

Waktu itu bergulir ya, dan zaman berubah dengan cepat. Tidak disangka aku sudah berada di ujung masa perkuliahan. Konon sih ini masa-masa yang penuh cobaan bagi mahasiswa, karena bersiap menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya. Tidak berbeda dengan para mahasiswa terdahulu, ke konon an itu juga terjadi padaku. Beberapa perubahan pola terjadi dalam siklus hidup.

Di semester ini, aku belum merasa bahwa aku siap menghadapi dunia yang katanya "nyata". Gak ngerti kenapa para sarjana suka ngomong gitu, barangkali kampus bukan dunia nyata bagi mereka, tapi dunia gaib.

"lilin nya ada yang menghembus, hussh. Ada yang mengorek-ngorek dinding,
suaranya terlihat semakin keras, lilinnya tiba-tiba mati". 
Ah itu acara dunia lain keless

Sementara orang berfikir tentang masa depan pasca kuliah, aku sendiri masih berfikir bagaimana menyelesaikan perkuliahan ini tepat waktu. Jujur saja, aku mulai tidak tega meminta uang kuliah kepada orang tua jika harus menunda satu semester karena belum selesai cinTa ku. 

Seperti yang aku katakan di paragraf pertama, siklus hidup berubah. Perubahan memang akan selalu terjadi, satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Bagiku semester ini benar-benar berubah, ada perubahan menuju arah yang baik, ada juga yang arahnya menjadi kurang baik, dan ada juga yang arahnya tidak bisa aku defenisikan apakah itu baik atau buruk. ah aku ngomong apa. Intinya ada beberapa hal :

Pertama,
Intinya, semester ini aku mulai merasa harus kurus, rendah lemak. 
Mungkin bakal menyenangkan kalo nanti waktu wisuda aku bisa tampil sehat dan bugar, siap menuju masa depan yang lebih nyata karena sekarang masih di dunia lain. Tidak asing di telingaku mendengar pencari kerja lulusan ITS tidak diterima kerja karena tidak sehat, tidak bugar dan tinggi kolesterol. Maklum, kami kampus para kalong denga tugas bisa membuat kami bolos kuliah. Maka tidak ada salahnya dong aku berolahraga rutin agar lebih bugar, metabolisme lancar dan proporsi tubuh ideal. Jujur, ketika aku lewat di tengah keramaian di kampus, semua mata fokus ke arahku. lebih tepatnya perutku. Mereka khilaf.

Kedua,
Intinya, semester ini aku mulai tidur tepat waktu, menjaga stamina.
Aktifitas semester akhir tidak sesibuk semester sebelumnya, jadi tidak ada salahnya aku menjalani pola tidur ala nabi. Habis isha tidur lalu bangun tengah malam. Itulah kegiatan rutinku tiap malam, tapi dalam mimpi. Kenyataannya aku tetap tidur tengah malam tapi tidak selarut semester sebelumnya, sekitar pukul 23.30 aku sudah memejamkan mata mengharapkan mimpi indah. Meskipun "hanya" sedikit lebih cepat namun sangat membantu, terutama untuk bangun shubuh lebih awal.

Ketiga, 
Intinya, semester ini aku mulai ditanyai progres TA.
Oke, aku tidak mau membahas yang ini.
Lanjut..

Keempat,
Intinya, aku sudah di senggal-senggol oleh ibu-ibu yang mencalonkan diri menjadi mertua. "Ini beneran, nggak bohong". Bagiku tidak masalah dengan kenyataan yang manis ini, aku mah senyam-senyum aja. Anak-anak nya juga lumayan, bahkan ada yang oke banget. Namun masalahnya yang suka ibunya doang, anaknya mah kagak. Ah, aku hanya ketawa-ketiwi mendengar cerita hal beginian dari Omak via telpon. Asalkan orang tua senang dan setuju, aku mah oke-oke aja. Cintaku sudah terpaut pada cintanya orang tua, bahagia mereka adalah bahagiaku. Asalkan tidak melenceng dari arahan agama.

Kelima,
Intinya tulisan ini tidak terlalu penting untuk dibaca.
Udah itu aja

Nah, kira-kira itulah sedikit perubahan yang terjadi dan bagaimana aku menyikapi perubahan. Agak keroco memang. Sejatinya perubahan terjadi disebabkan oleh perubahan yang lain yang terjadi. Siklus berubah karena setiap individu memiliki sifat autonomious, sehingga keadaan di dalam sistem akan berubah secara teratur dan membentuk pola tertentu. Namun pola itu akan selalu sama jika dilihat dari kacamata tuhan. 

Kacamata tuhan ? 
Nanti di tulisan selanjutnya..


*btw, tiga hari terakhir blog ini cukup ramai dikunjungi.
Terimakasih banyak telah berkunjung, itu sangat berharga
Silahkan tinggalkan komentar untuk masukan maupun request
Terharu, siapapun kamu terimakasih :D





Allah

Oh, Cinta yang tak putus
Junjunganku yang agung
Aku sudah mengerti kenaifan diriku
Aku cukupkan do'aku sampai di sini
bukan karena aku tidak percaya pada rahmatmu
Namun aku yakin inilah jawaban dari do'aku

Ya Pemegang jiwaku,
Berilah aku sesuatu yang lebih layak untuk ku do'akan
Sesuatu yang bisa ku pegang teguh ucapannya
Yang bisa ku ingat semua perkataan baiknya
Dan tidak mengecewakan sampai sejauh ini
Ghufranaka ya Rabb


Sang Profesor

Hasil gambar untuk two way
Source : www.relm.com
      Dua minggu terakhir aku disibukkan dengan aktifitas laboratorium yang kian padat, menghabiskan waktu yang semula direncanakan untuk mengerjakan Si cinTA. namun harus rela diganggu dengan urusan cinta yang lain. Meskipun sibuk, aku merasa terbayarkan karena aku belajar banyak hal tentang bersyukur. Apa yang aku miliki sekarang adalah sesuatu yang diharapkan oleh banyak orang di luar sana. Dalam konteks aktifitas kampus, dakwah, dan lingkungan hidup. Orang-orang berdatangan dan menyalamiku seakan berkata, "kau sangat beruntung, sedangkan kami..." sebagian yang lain seakan berkata "senang bekerjasama dengan anda, semoga...". (itu hanya kesimpulanku saja, seperti kata karim, "kau sering terlalu cepat menyimpulkan...")
       Namun ada yang kurang dalam kesibukan itu, yaitu liqo' rutin yang menjadi tertunda sedemikian waktu, karena alasan ini dan itu. Meski alasan nya jelas untuk kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, tetap saja liqo' itu seperti makanan bagi hati. Tidak bertemu dengan orang-orang baik membuat kita merasa mual pada diri sendiri. Ya, bertemu mereka membuat hati terasa lebih nyaman dan bersemangat. Nasehat-nasehat terasa menyejukkan, dan sikap ideal terasa lebih mudah diterapkan. Selain itu, aku menemukan sisi lain dari tanah jawa, yang selama ini aku keluh-keluhkan. Mungkin karena aku belum bisa survive di lingkungan yang "keras" perjuangan. Namun aku benar-benar harus bersyukur. Bukan karena aku meraih apa yang aku inginkan, melainkan karena aku sudah sadar bahwa aku layak dan harus bersyukur.
      Pagi ini, aku menyempatkan diri untuk hadir di liqo' di Manarul 'Ilmi bersama Mas Fajri. Liqo' yang berbeda dengan yang dimentori Pak Juwari (re-Semangkuk Gandum(1)). Sejujurnya aku mengagumi Mas Fajri sejak masih maba, waktu itu beliau tengah berorasi sebagai calon Presiden Mahasiswa di lapangan voli kantin FTI kampus kota. Dan aku mahasiswa baru lugu  yang bingung dengan huru-hara yang tidak aku pahami. Akan tetapi, meskipun tidak mengeal apalagi mengobrol langsung-nya, kiprah beliau sebagai aktifis kampus serta langkah hidup nya cukup aku dengar dan layak dikagumi. Setidaknya berbeda jauh dengan apa yang aku dapatkan ketika proses pengkaderan di TI yang waktu itu "entahlah ya", aku masih gagal paham. Siapa sangka bahwa dia adalah mentorku sekarang, mentor paling konkret dalam urusan jodoh, pilihan hidup,  dan langkah-langkah perjuangan di masa yang akan datang.
      Hal yang sama terjadi dalam aktifitas akademik kampus, beliau adalah Profesor bidang Supply Chain Management (SCM) pertama di Indonesia. Dalam beberapa kegiatan, aku melihat sang Profesor begitu diidolakan mahasiswa dan dosen-dosen dari kampus lain, jujur aku tidak sadar bahwa beliau sehebat itu. Namun aku maklum, buku beliau banyak dijadikan rujukan dalam ilmu SCM di Indonesia. Aku, saat Maba, tidak pernah berfikir bahwa aku akan memahami bidang SCM yang rumornya elit dan susah. "Terfikirkan-pun tidak" , sedangkan aku masih merasa nyasar di dalam hutan belantara dengan otak jongkok. Siapa sangka, sekarang aku adalah asisten lab SCM yang diasuh beliau, dan tengah sibuk membantu beberapa proyek sang Profesor sekaligus menjadi pembimbing tugas akhir.
       Itulah manusia, hal besar selalu berada di sekitar kita namun tidak disadari dan disyukuri karena kita sedang memiliki. Terlalu banyak melihat yang di seberang sana hingga lupa  dengan apa yang ada di sini. Aku menyadari bahwa apa yang aku dapatkan sangat layak disyukuri, dan aku sangat memahami bahwa apa yang aku dapatkan hanya karena keberuntungan bahkan mungkin ujian ilahi. Pastinya bukan karena kecerdasan atau apapun yang semisal dengannya, karena sampai sekarang aku termasuk mahasiswa yang kuliahnya lancar tapi ilmunya masih terkatung. Intinya harus bersyukur.
       Ya, aku menceritakan ini karena aku sedang bingung, dan berharap keberuntungan lagi kali ini. Ayah telah memintaku untuk langsung melanjutkan studi S2 dan menjadi dosen, sedangkan aku ingin menikah terlebih dahulu. wkwk, becanda. Aku ingin membawa mereka ke tanah suci terlebih dahulu dengan bekerja dan mencari nafkah, barulah aku bisa berfikir tentang untuk diriku sendiri. Rencanaku semakin kuat karena Prof ku di Laboratorium merekomendasikan untuk bekerja dulu sekian tahun, baru melanjutkan S2. Namun permintaan  Ayah juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Bagaimanapun juga, Ayah adalah seorang profesor bagiku, meskipun tidak bergelar Profesor.
        Semoga pilihan terbaik diberikan Allah pada dua beranak di keluarga nan bahagia ini.

*Maaf ceritanya lompat-lompat