Cerita Si Nona Manis

Hasil gambar untuk photoshop amazing cute

Suka, aku suka seseorang yang menempatkan diri seperti orang bodoh. Ditunjukkan dengan bertanya, dan percaya sepenuhnya pada yang ditanya. Suka, aku begitu suka ketika ditanya oleh mereka yang bertanya dan memposisikan dirinya seperti orang bodoh yang ingin tahu. Bukan tanya sekedar tanya yang basa dan segera basi. Kata orang bijak, seseorang akan merasa dihargai jika si penanya menempatkan dirinya seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa. Hal sederhana yang harus aku pelajari.

Menghargai, tidak dimiliki semua orang, terhadap semua orang dan oleh setiap orang. Kita biasa menghargai orang karena pangkat, strata sosial, hingga tampang yang rupawan ; tapi jarang sekali karena sesuatu yang tak tersingkap oleh mata. Aku belajar, bahwa menghargai tidak harus karena siapa dirimu, seberapa pintar, atau seberapa rupawannya kamu. Ini lebih kepada bagaimana kamu melihat kebaikan di dalam diri seseorang, meski awalnya tidak terlihat seperti itu.

Hari ini aku berangkat shalat ashar bareng Savi, Si nona manis. Yah melihatnya akan membuatmu enggan berpaling, lupa beristighfar. haha Aku fikir, banyak lelaki yang melirik dan sesekali menggodanya. Tapi bukan itu inti dari cerita ini.

Kebetulan kami bertemu di lab setelah shalat zuhur. Aku pusing mengerjakan tugas akhir sedangkan dia asik belajar Multi Criterion Decision Making (MCDM), sebuah mata kuliah yang membahas tentang bagaimana caranya memilih pasangan hidup berdasarkan banyaknya kriteria yang kita miliki. Kira-kira begitu penjelasan singkat dari Prof. Budi waktu aku semester empat dulu, lawak.

Singkat cerita, aku duduk di sebelah Si nona, mengutak-atik model simulasi sesekali bergumam karena berfikir.

"Sudah azan ashar ?"

"Belom, masih lama", aku melihat jam menunjukkan pukul dua.

 15 menit kemudian, aku ditanyai lagi.

"Go, udah ashar belom ?"

"Belom Sav, 30 menit lagi mungkin ", aku mengira-ngira karena aku juga gak tahu pasti waktu ashar pukul berapa. Keseringan ditanya, aku berinisiatif googling.

"Kamu ngapain searching itu ?" Si nona tiba-tiba bertanya.

"Biar tahu waktu shalat, daritadi kamu nanyai terus-sih!" jawabku sewot.

"lho, gak usah. Aku punya aplikasinya kok, ntar juga muncul notif nya kalo udah ashar!"  kata Si nona.

"oh gitu, okedeh!" aku berusaha tersenyum, walau kecut.

Dalam hati.

"Coba aku nggak puasa, mau ku jitak ni cewek, untung cakep. Ngapain coba banyak tanya kalo sebenarnya bisa lihat sendiri di ponsel. Toh biasanya azan juga kedengeran sampai ke sini. Wanita memang membingungkan".

5 menit kemudian.

"Sav, nanti shalat ashar di mesjid yuk!".

"Ayo, dimana ?" jawab Si nona sambil membaca slide presentasi di komputernya.

"Di mesjid yang depan Pens aja, gimana ?"

"Boleh, kejauhan tapi", jawab Si nona.

"Atau di Manarul (mesjid kampus) aja ?" aku menawarkan opsi.

"Boleh bentar lagi ya, habis ini kelar", aku menangkap senyum manisnya.

"Oke", aku tersipu, padahal Manarul itu lebih jauh. hehe

Dalam hati

"Kedua kalinya aku nggak habis fikir. Apakah wanita memang sebegitu sulit dipahami ? Ini aku yang bodoh atau gimana sih ?".

Singkat cerita, aku dan Savi segera turun menuju parkiran mobil, sesekali mengajak teman-teman yang lain untuk ke Manarul juga.

"Sorry go, lagi nungguin dosen nih"

"Duluan aja go, masih on progress"

Well, it's only us.

Perjalanan menuju Manarul cukup ramai, orang-orang sedang mempersiapkan jajanan untuk berbuka puasa di sekitar bundaran kampus, sebagian lagi lalu lalang sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku melihat seorang bapak dengan sumringahnya membuka lapak dipinggir jalan, Ya, begitulah serunya berdagang.

Azan ashar berkumandang, kami shalat berjamaah dengan ratusan mahasiswa lain yang sengaja meluangkan waktunya. Sungguh shalat Ashar yang damai, dan khusuk.

Selesai shalat, kami kembali ke mobil setelah membaca beberapa halaman qur'an. Percakapan ringan dengan Si nona membuat aku tersadar, terutama setelah melihat para pedagang semakin sibuk. Pembeli semakin ramai, dan jalanan semakin padat. Tidak jauh berbeda setelah kami tiba di laboratorium, orang-orang masih sibuk dengan pekerjaannya.

Ditambah lagi setelah mendengar kajian setelah tarawih tadi, bagaimana kita berjual beli dengan Allah di bulan Ramadhan. Dapat mengambil keutamaan pada bulan ini adalah keberuntungan dan kasih sayang yang besar dari Allah, sedangkan mengabaikannya adalah kedunguan dari seorang hamba. Termasuk shalat di awal waktu, Aku semakin menyadari bahwa lapak yang perlu disiapkan dengan baik adalah lapak akhirat, dan sebaik-baik jual beli adalah jual beli dengan Allah. Dan tidak semua orang mau mengambil kesempatan itu.

Ah, begitulah kira-kira.
Tadinya Si nona bertanya seperti orang tua, namun aku justru melihat kebaikan dalam dirinya. Ia berhasil menjadikan aku lebih aware pada waktu shalat. Ia telah menasehatiku tanpa aku merasa digurui. Angkat topi untuk Savi, si nona manis.



Kasur,1 Ramadhan 1438 H
Surabaya

Marhaban ya Ramadhan 1438 H

Hasil gambar untuk ramadhan
Source : Muslim.Or.id
Besok malam udah bulan Ramadhan ya,
Gak terasa waktu berjalan jauh lebih cepat daripada kita mempersiapkan diri. Memang benar, persiapan kita tergantung anggapan kita pada sesuatu. Seseorang yang menunggu pertandingan besar akan mempersiapkan diri lebih baik daripada yang menganggapnya biasa saja. Sama dengan Ramadhan, persiapan kita bergantung pada bagaimana kita menganggap bulan ini sebagai ajang kebaikan, pendekatan diri, obat dari segala obat, melatih diri sebaik-baiknya. Menahan agar tidak marah, tidak bicara melainkan kebaikan, bekerja lebih keras, dan bertawakkal lebih iklas.

Buat teman-teman terkhusus Cyprium-TI 32.
Mengejar deadline H-3 Lebaran.

Bulan dimana kita biasa berkumpul dengan keluarga, akan kita habiskan penuh di kampus, di lab, di kos, kontrakan atau di manapun kita nyaman berjuang. Sepertinya kita berada pada timing yang tepat, saat-saat di mana kita akan sering mengumpat dan berputus asa namun kita dituntut bersikap baik, menjaga hal-hal yang akan membatalkan puasa. Di tengah gempuran emosi menuju deadline yang luar biasa, masih banyak hal yang harus kita persiapkan untuk sesuatu yang tak kalah luar biasanya. Ada sahur, shaum, berbuka, qiyamul lail, hingga berburu lailatul qadar

Jangan sampai salah prioritas, karena sejatinya keduanya adalah hal yang saling mendukung dan tidak bertolak belakang. Jangan tunda shalat jamaahnya karena menanti software Arena selesai running. Jangan lupa qiyamullail karena sibuk mengutak-atik model di LINGO ataupun tertinggal tadarus karena model keuangannya belum diterima pembimbing. Begitu juga sebaliknya, jangan sampai lupa merevisi laporan karena tertidur setelah shalat shubuh, atau absen bimbingan karena terlalu lama tidur siang setelah dhuhur. 

Imbang-imbanglah. biarkan hatimu berfatwa, ia akan mendekat kepada kebenaran dengan sendirinya. Karena hal-hal yang benar ialah apa-apa yang membuat hatimu tenang, dan hal-hal yang salah adalah apa-apa yang membuat hatimu gelisah. Aku bergitu terpesona dengan kalimat Ibnul Qayyim Al-jauziah.

"Barang siapa yang menjadikan Allah sebagai keterpesonaannya, maka ia akan mempesona bagi semua mata. Dan barang siapa yang menjadikan Allah sebagai tujuannya, maka dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk"

Buat para jomblo maupun yang bukan, cobalah untuk lebih manjaga pandangan. Mulailah belajar mencintai apapun dari hati, jangan biarkan mata menipu diri. Karena hati bisa melihat yang tak kasat mata, menelusuri hingga seluk beluk jiwa yang bersih.
Yang kemarin sempat berselisih perkara apapun, maaf-maafkanlah. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Marhaban ya Ramadhan 1438 Hijriyah
Semoga Allah panjangkan usiaku hingga aku benar-benar bertemu dengannya.
Selamat ber-Tugas Akhir
Selamat berburu kebaikan

#selfreminder

Perempuan

Hasil gambar untuk niqab

Jangan kau tanya seberapa besar sakit ketika terluka, bahkan luka ditebas pedangpun takkan sesakit ini. Memang mudah melupakan, namun yang sakit itu disiksa kenangan. Inilah aku yang memilih berdiri di puncak gunung, melihat keagungan ilahi menghibur diri. Namun apalah daya, semakin tinggi gunung ku daki semakin indah panorama, semakin pula aku mengharap meski akhirnya cuma bisa menghembuskan nafas panjang. Badai badai kecil menghadap perjalanan, namun tidak menggetarkan kakiku. Setidaknya tidak selunglai seperti saat kau memutuskan pergi.

"Sepertinya orang baik, kau ndak tertarik ?".

"Tidak, eh hmm, ndak kayak yang aku bayangin, cantik sih"

"Coba dulu lah".

"Hmm, lihat nanti deh. Satu satunya yang bisa aku istiqomahkan sampai sekarang ya itu, ndak pacaran sampai saatnya tiba, dan aku berdoa untuk itu."

"Masa' ? Delima tu macam mana pula ceritanya ?"

"Udah, usahdi bahas". Pembicaraan dialihkan pada hal lain hingga larut malam.

Perempuan, makhluk Allah yang dalam bahasa arab disebut sebagai an-nisa, mar'atun dan imro'atun. Maka jangan heran jika mereka memang sukar dipahami, sebutannya saja berbagai rupa. Jangan heran pula jika bahasa komputer itu sulit dimengerti, karena pada kenyatannya merekalah kaum pertama yang menjadi programmernya. Mereka terlahir menjadi makhluk lemah yang kuat, gampang menangis namun keteguhannya tiada tara.

Perempuan, makhluk yang menyebabkan jutaan syair terlahir di dunia, ratusan ribu manusia menjadi pujangga karena memuja maupun memakinya. Lalu, kukenalkan pula seorang perkasa, khalifah garang yang setan pun kabur saat berpas-pasan dengannya, Umar bin Khatab ra. Sang penakluk imperium Persia sebagai kerajaan terbesar di zamannaya, suaranya menggelegar menakutkan dari setiap rongga tubuh kekarnya. Namun, dia pun bertekuk lutut pada perempuannya.

Lalu, siapakah aku yang berani berkata bahwa aku mampu menghadapinya.

Thoughts Kuadrat

Gue sangat amat respect dengan orang-orang yang menjaga pandangan dan hatinya. Orang-orang yang berpikir bahwa hati manusia bukan untuk dipermainkan, bukan juga untuk dimiliki.
Karena sesungguhnya segala sesuatu hanya milik-Nya.
Orang-orang yang sibuk menata masa depannya, kehidupan di dunia dan kehidupan setelah mati. Sehebat apapun setan menguji, mereka tetap berteguh pada pendirian. Mereka menyimpan masa depannya hanya untuk satu orang. Mereka gak pernah pacaran. Jatuh cinta mungkin, tapi mereka menjaga cintanya tanpa diketahui orang lain. Menurut gue orang-orang itu adalah orang yang sangat sabar. Gak, mereka gak takut kalo gak berusaha kemudian mereka bakal menjomblo seumur hidup.
Mereka percaya bahwa Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik buat mereka, dan akan dipertemukan dengan cara yang terbaik.
Terkadang gue bingung dengan orang yang mencintai orang yang berbeda keyakinan dengannya. Jelas-jelas sudah dilarang, tapi dimulai. Sudah dimulai, kemudian dilanjutkan. Seolah tidak ada manusia baik lainnya di dunia ini yang bisa mencintai dia.
Terkadang gue berpikir, berarti orang-orang seperti itu lebih memilih manusia dibanding Tuhannya.
Memperjuangkan cinta yang semu dan belum halal, untuk seseorang yang belum tentu jodohnya. Mungkin mereka hanya belum mengerti. Mungkin. Dulu gue juga masih bodoh. Pikiran gue sangat sempit.
Di dunia sekarang ini, pacaran dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Status jomblo dibuat jokes. Seolah orang yang berusaha menjaga kehormatan dirinya dianggap hina. Hanya karena gak punya gandengan. Orang-orang pun berlomba-lomba memamerkan pacarnya di sosial media. Berbangga diri. Enggak, gue gak sirik. Gue juga dulu seperti itu. Tapi kemudian Allah menjawab doa gue. Sungguh, Allah Maha pembolak-balik hati manusia.
Allah Maha pembolak-balik hati manusia.
Itu adalah salah satu nasihat nyokap yang selalu beliau ulang-ulang saat gue masih bodoh dulu. Beliau selalu menasihati gue hal itu setiap melihat mata sembab gue, bekas menangisi berbagai macam hal hasil “berantem”. Bukan, bukan menangisi dosa ataupun menangisi negara ini. Tapi menangisi seorang manusia. Seorang manusia yang sebenarnya bukan siapa-siapa. Gue akui memang dulu gue sangat bodoh, kok.
Gue juga mengakui bahwa mencintai memang adalah naluri manusia. Gue juga mengakui bahwa mencintai seseorang itu indah. Mencintai dan menerima seseorang—kekurangan, kelebihan dan seluruh kehidupannya—itu indah.
Memang, Allah menjadikan segala sesuatu di dunia itu indah. Indah, tapi membutakan. Membuat kita buta pada keindahan yang ada di dunia yang kekal nanti. Gue pun juga masih sering dibutakan oleh dunia, hanyut dimabukkan keindahan duniawi.
Tapi satu hal yang harus selalu ada di pikiran,
Ketika hanyut dalam sungai, jangan pernah membiarkan diri tenggelam ke dalamnya.
Ketika hanyut, harus segera mencari pegangan untuk membantu kita keluar dari arus yang menerjang.
Pegangan itu juga harus kuat. Harus kokoh. Sesuatu yang kuat seperti batang pohon dan bukan ranting kecil yang mudah patah.
Ketika sudah berhasil berdiri, jangan lupa bahwa akan ada tangan-tangan yang bisa mendorong kita jatuh kembali.
Tapi jangan lupa juga bahwa ketika hanyut, akan ada uluran tangan yang bisa membantu kita keluar dari derasnya arus.
Tapi hal-hal seperti itu pun gak akan menolong, kalau kita justru menutup mata dan menikmati hanyutnya diri dalam sejuknya air.
Harus diingat bahwa sungai akan berujung pada lautan luas. Segera sadarkan diri dan keluar dari sungai sebelum tenggelam lebih jauh dan lebih dalam ke dalam lautan.
Yah, silahkan diterjemahkan sendiri. Semoga gak bingung. Kalo bingung pegangan. Gue juga gangerti kenapa harus pegangan. Padahal ketika bingung harusnya ada orang yang bisa menjawab segala kebingungan lo kan. Mungkin kita harus pegang-pegang orang supaya kebingungan kita terjawab.
apaansih :(
Tapi yaudahlah.
Semoga kita selalu berada pada jalan yang benar. Aamiin.
https://blueskiescollide.wordpress.com/2015/03/08/thoughts/