Intinya adalah !

Hasil gambar untuk waktu
Source : www.cermati.com

Waktu itu bergulir ya, dan zaman berubah dengan cepat. Tidak disangka aku sudah berada di ujung masa perkuliahan. Konon sih ini masa-masa yang penuh cobaan bagi mahasiswa, karena bersiap menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya. Tidak berbeda dengan para mahasiswa terdahulu, ke konon an itu juga terjadi padaku. Beberapa perubahan pola terjadi dalam siklus hidup.

Di semester ini, aku belum merasa bahwa aku siap menghadapi dunia yang katanya "nyata". Gak ngerti kenapa para sarjana suka ngomong gitu, barangkali kampus bukan dunia nyata bagi mereka, tapi dunia gaib.

"lilin nya ada yang menghembus, hussh. Ada yang mengorek-ngorek dinding,
suaranya terlihat semakin keras, lilinnya tiba-tiba mati". 
Ah itu acara dunia lain keless

Sementara orang berfikir tentang masa depan pasca kuliah, aku sendiri masih berfikir bagaimana menyelesaikan perkuliahan ini tepat waktu. Jujur saja, aku mulai tidak tega meminta uang kuliah kepada orang tua jika harus menunda satu semester karena belum selesai cinTa ku. 

Seperti yang aku katakan di paragraf pertama, siklus hidup berubah. Perubahan memang akan selalu terjadi, satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Bagiku semester ini benar-benar berubah, ada perubahan menuju arah yang baik, ada juga yang arahnya menjadi kurang baik, dan ada juga yang arahnya tidak bisa aku defenisikan apakah itu baik atau buruk. ah aku ngomong apa. Intinya ada beberapa hal :

Pertama,
Intinya, semester ini aku mulai merasa harus kurus, rendah lemak. 
Mungkin bakal menyenangkan kalo nanti waktu wisuda aku bisa tampil sehat dan bugar, siap menuju masa depan yang lebih nyata karena sekarang masih di dunia lain. Tidak asing di telingaku mendengar pencari kerja lulusan ITS tidak diterima kerja karena tidak sehat, tidak bugar dan tinggi kolesterol. Maklum, kami kampus para kalong denga tugas bisa membuat kami bolos kuliah. Maka tidak ada salahnya dong aku berolahraga rutin agar lebih bugar, metabolisme lancar dan proporsi tubuh ideal. Jujur, ketika aku lewat di tengah keramaian di kampus, semua mata fokus ke arahku. lebih tepatnya perutku. Mereka khilaf.

Kedua,
Intinya, semester ini aku mulai tidur tepat waktu, menjaga stamina.
Aktifitas semester akhir tidak sesibuk semester sebelumnya, jadi tidak ada salahnya aku menjalani pola tidur ala nabi. Habis isha tidur lalu bangun tengah malam. Itulah kegiatan rutinku tiap malam, tapi dalam mimpi. Kenyataannya aku tetap tidur tengah malam tapi tidak selarut semester sebelumnya, sekitar pukul 23.30 aku sudah memejamkan mata mengharapkan mimpi indah. Meskipun "hanya" sedikit lebih cepat namun sangat membantu, terutama untuk bangun shubuh lebih awal.

Ketiga, 
Intinya, semester ini aku mulai ditanyai progres TA.
Oke, aku tidak mau membahas yang ini.
Lanjut..

Keempat,
Intinya, aku sudah di senggal-senggol oleh ibu-ibu yang mencalonkan diri menjadi mertua. "Ini beneran, nggak bohong". Bagiku tidak masalah dengan kenyataan yang manis ini, aku mah senyam-senyum aja. Anak-anak nya juga lumayan, bahkan ada yang oke banget. Namun masalahnya yang suka ibunya doang, anaknya mah kagak. Ah, aku hanya ketawa-ketiwi mendengar cerita hal beginian dari Omak via telpon. Asalkan orang tua senang dan setuju, aku mah oke-oke aja. Cintaku sudah terpaut pada cintanya orang tua, bahagia mereka adalah bahagiaku. Asalkan tidak melenceng dari arahan agama.

Kelima,
Intinya tulisan ini tidak terlalu penting untuk dibaca.
Udah itu aja

Nah, kira-kira itulah sedikit perubahan yang terjadi dan bagaimana aku menyikapi perubahan. Agak keroco memang. Sejatinya perubahan terjadi disebabkan oleh perubahan yang lain yang terjadi. Siklus berubah karena setiap individu memiliki sifat autonomious, sehingga keadaan di dalam sistem akan berubah secara teratur dan membentuk pola tertentu. Namun pola itu akan selalu sama jika dilihat dari kacamata tuhan. 

Kacamata tuhan ? 
Nanti di tulisan selanjutnya..


*btw, tiga hari terakhir blog ini cukup ramai dikunjungi.
Terimakasih banyak telah berkunjung, itu sangat berharga
Silahkan tinggalkan komentar untuk masukan maupun request
Terharu, siapapun kamu terimakasih :D





Allah

Oh, Cinta yang tak putus
Junjunganku yang agung
Aku sudah mengerti kenaifan diriku
Aku cukupkan do'aku sampai di sini
bukan karena aku tidak percaya pada rahmatmu
Namun aku yakin inilah jawaban dari do'aku

Ya Pemegang jiwaku,
Berilah aku sesuatu yang lebih layak untuk ku do'akan
Sesuatu yang bisa ku pegang teguh ucapannya
Yang bisa ku ingat semua perkataan baiknya
Dan tidak mengecewakan sampai sejauh ini
Ghufranaka ya Rabb


Sang Profesor

Hasil gambar untuk two way
Source : www.relm.com
      Dua minggu terakhir aku disibukkan dengan aktifitas laboratorium yang kian padat, menghabiskan waktu yang semula direncanakan untuk mengerjakan Si cinTA. namun harus rela diganggu dengan urusan cinta yang lain. Meskipun sibuk, aku merasa terbayarkan karena aku belajar banyak hal tentang bersyukur. Apa yang aku miliki sekarang adalah sesuatu yang diharapkan oleh banyak orang di luar sana. Dalam konteks aktifitas kampus, dakwah, dan lingkungan hidup. Orang-orang berdatangan dan menyalamiku seakan berkata, "kau sangat beruntung, sedangkan kami..." sebagian yang lain seakan berkata "senang bekerjasama dengan anda, semoga...". (itu hanya kesimpulanku saja, seperti kata karim, "kau sering terlalu cepat menyimpulkan...")
       Namun ada yang kurang dalam kesibukan itu, yaitu liqo' rutin yang menjadi tertunda sedemikian waktu, karena alasan ini dan itu. Meski alasan nya jelas untuk kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, tetap saja liqo' itu seperti makanan bagi hati. Tidak bertemu dengan orang-orang baik membuat kita merasa mual pada diri sendiri. Ya, bertemu mereka membuat hati terasa lebih nyaman dan bersemangat. Nasehat-nasehat terasa menyejukkan, dan sikap ideal terasa lebih mudah diterapkan. Selain itu, aku menemukan sisi lain dari tanah jawa, yang selama ini aku keluh-keluhkan. Mungkin karena aku belum bisa survive di lingkungan yang "keras" perjuangan. Namun aku benar-benar harus bersyukur. Bukan karena aku meraih apa yang aku inginkan, melainkan karena aku sudah sadar bahwa aku layak dan harus bersyukur.
      Pagi ini, aku menyempatkan diri untuk hadir di liqo' di Manarul 'Ilmi bersama Mas Fajri. Liqo' yang berbeda dengan yang dimentori Pak Juwari (re-Semangkuk Gandum(1)). Sejujurnya aku mengagumi Mas Fajri sejak masih maba, waktu itu beliau tengah berorasi sebagai calon Presiden Mahasiswa di lapangan voli kantin FTI kampus kota. Dan aku mahasiswa baru lugu  yang bingung dengan huru-hara yang tidak aku pahami. Akan tetapi, meskipun tidak mengeal apalagi mengobrol langsung-nya, kiprah beliau sebagai aktifis kampus serta langkah hidup nya cukup aku dengar dan layak dikagumi. Setidaknya berbeda jauh dengan apa yang aku dapatkan ketika proses pengkaderan di TI yang waktu itu "entahlah ya", aku masih gagal paham. Siapa sangka bahwa dia adalah mentorku sekarang, mentor paling konkret dalam urusan jodoh, pilihan hidup,  dan langkah-langkah perjuangan di masa yang akan datang.
      Hal yang sama terjadi dalam aktifitas akademik kampus, beliau adalah Profesor bidang Supply Chain Management (SCM) pertama di Indonesia. Dalam beberapa kegiatan, aku melihat sang Profesor begitu diidolakan mahasiswa dan dosen-dosen dari kampus lain, jujur aku tidak sadar bahwa beliau sehebat itu. Namun aku maklum, buku beliau banyak dijadikan rujukan dalam ilmu SCM di Indonesia. Aku, saat Maba, tidak pernah berfikir bahwa aku akan memahami bidang SCM yang rumornya elit dan susah. "Terfikirkan-pun tidak" , sedangkan aku masih merasa nyasar di dalam hutan belantara dengan otak jongkok. Siapa sangka, sekarang aku adalah asisten lab SCM yang diasuh beliau, dan tengah sibuk membantu beberapa proyek sang Profesor sekaligus menjadi pembimbing tugas akhir.
       Itulah manusia, hal besar selalu berada di sekitar kita namun tidak disadari dan disyukuri karena kita sedang memiliki. Terlalu banyak melihat yang di seberang sana hingga lupa  dengan apa yang ada di sini. Aku menyadari bahwa apa yang aku dapatkan sangat layak disyukuri, dan aku sangat memahami bahwa apa yang aku dapatkan hanya karena keberuntungan bahkan mungkin ujian ilahi. Pastinya bukan karena kecerdasan atau apapun yang semisal dengannya, karena sampai sekarang aku termasuk mahasiswa yang kuliahnya lancar tapi ilmunya masih terkatung. Intinya harus bersyukur.
       Ya, aku menceritakan ini karena aku sedang bingung, dan berharap keberuntungan lagi kali ini. Ayah telah memintaku untuk langsung melanjutkan studi S2 dan menjadi dosen, sedangkan aku ingin menikah terlebih dahulu. wkwk, becanda. Aku ingin membawa mereka ke tanah suci terlebih dahulu dengan bekerja dan mencari nafkah, barulah aku bisa berfikir tentang untuk diriku sendiri. Rencanaku semakin kuat karena Prof ku di Laboratorium merekomendasikan untuk bekerja dulu sekian tahun, baru melanjutkan S2. Namun permintaan  Ayah juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Bagaimanapun juga, Ayah adalah seorang profesor bagiku, meskipun tidak bergelar Profesor.
        Semoga pilihan terbaik diberikan Allah pada dua beranak di keluarga nan bahagia ini.

*Maaf ceritanya lompat-lompat

Semangkuk Gandum (1)

(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya".
(Q.S Yusuf : 46)
Hasil gambar untuk gandum
slource : google.com


Kata orang dunia ini semakin maju, manusia semakin cerdas dan memiliki teknologi terdepan. Aku sama sekali tidak menyangkal hal  itu, sama sekali tidak. Namun malam ini aku benar-benar tertohok, terhadap kisah seorang manusia paling tampan di muka bumi. Ia dipisahkan dari keluarganya sejak kecil, dimasukkan ke dalam penjara karena menghindari zina, dan menjadi pemuka negara karena kecerdasannya. Semua itu dikisahkan di dalam Al-Qur'an Al-Karim. 

Ya, lagi-lagi Al-Qur'an menjadi mukjizat dalam hidupku, memberikan jawaban atas semua pertanyaanku. Kali ini kekaguman berawal dari liqo' rutin kamis malam di rumah Pak Juw (Kajur Teknik Kimia, ITS). Kami biasa mengawali liqo' dengan tilawah tiga ayat per orang hingga semua anggota liqo' membaca Al-Quran, kemudian dilanjutkan membaca terjemahan. Setelah itu Pak Juw akan membahas sedikit demi sedikit tentang terjemahan ayat yang kami baca tadi. Hal menarik yang dibahas Pak Juw adalah bagaimana jika kejadian terdahulu yang diceritakan di dalam al-qur'an itu terjadi lagi di zaman sekarang, atau mungkin bagaimana suasananya jika kita berada dalam posisi orang-orang yang terlibat dalam kejadian-kejadian itu. 

Nah, kebetulan kami sedang membahas surat Yusuf, surat ke 12 di dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 111 ayat. Bisa dikatakan bahwa seluruh isi surat ini bercerita tentang kisah Nabi Yusuf Alaihisallam dan diakhiri dengan hikmah apa yang bisa diambil dari kisahnya. Berbicara tentang Yusuf Alaihisallam, maka yang ada dibenak kita adalah ketampanan seorang lelaki yang mempesona seluruh wanita mesir kala itu. Kemudian kisah keteguhannya dalam menjaga diri dari zina, meskipun di dalam situasi sangat memungkinkan untuk menerima rayuan Zulaikha yang rupawan. Ialah Yusuf yang kerap yang menjadi tauladan sebagai pemuda ideal dalam menjaga kehormatan diri, serta kisah lainnya yang mungkin tidak semashur ketampanannya. Namun aku menemukan sesuatu yang berbeda dari sosok Yusuf Alaihisallam, sesuatu yang sangat mengispirasiku dalam proses belajar.

Ialah Yusuf Alaisallam yang cerdas, pencetus ilmu ketahanan pangan, dan ahli logistik yang menawan. Semua bermula dari mimpi sang raja tentang tujuh ekor sapi betina gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina kurus dan tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh lainnya yang kering. Yusuf mampu menakwilkan mimpi tersebut hingga diketahuilah bahwa negerinya akan mengalami masa subur selama 7 tahun dan diikuti masa kemarau ganas selama tujuh tahun pula. Namun yang menarik bagiku bukanlah kemampuannya menakwilkan mimpi, akan tetapi kecerdasannya dalam mengatur negara untuk mengahadapi kemarau panjang.

Sebutlah Mesir merupakan negara yang subur, dan sejak sang Raja bermimpi maka negeri mesir hanya memiliki waktu tujuh tahun untuk mempersiapkan kemarau panjang yang lamanya juga tujuh tahun. Secara logika, hal itu sangat sulit dilakukan tanpa strategi yang matang dan pertolongan dari Allah. Menurut berbagai sumber yang aku baca, Yusuf membangun sebuah kota guna menyimpan segala persediaan selama tujuh tahun masa subur untuk masa kemarau. Kota itu bernama Fayoum yang terletak di tengah wilayah Mesir saat ini. Ia membangun kanal dari sungai Nil dan meninggikan air danau untuk menggenjot hasil pertanian pada tujuh tahun masa subur, kemudian menyimpan sebagian hasil pertanian untuk persediaan selama musim kemarau. Hingga saat ini kota Fayoum dikenal sebagai kota tua yang paling subur di Mesir.

Secara logika, yang dilakukan oleh Yusuf sangat masuk akal, bahwa yang perlu dilakukan adalah menggenjot hasil pangan selama kesempatan masih ada. Jika aku berada di posisi Yusuf maka sepintar apapun tentu akan melakukan hal yang sama, karena hanya itulah yang dengan logika orang biasa "mungkin" untuk dilakukan, dan begitulah Al-Qur'an menceritakan kisahnya agar mudah dipahami oleh semua orang awam. Dalam makna sederhana, Yusuf menyimpan bahan makanan selama tujuh tahun untuk persediaan selama tujuh tahun berikutnya. 

Namun kasus ini tentu tidak segampang itu, ada banyak hal yang perlu dikaji mengenai strategi Yusuf dalam mengelola sumber daya hingga Mesir kala itu selamat dari musim kemarau terpanjang sepanajang sejarah. Tidak hanya selamat, bahkan mampu menghidupi wilayah sekitar hingga kawasan Palestina tempat Yusuf berdomisili ketika masa kanak-kanak. Aku tidak menemukan jurnal-jurnal ilmiah  yang mengkaji strategi Yusuf, mungkin ada, tapi belum bertemu saja. Berikut sedikit pertanyaan dalam fikiranku.

Bagaimana Yusuf menjaga bahan pangan agar tetap awet selama bertahun-tahun ? 
Tujuh tahun kemarau bukanlah masa yang singkat. Secara logika usia bahan pangan yang harus dipersiapkan Yusuf harus mampu bertahan selama 0 hingga 14 tahun jika distribusi dilakukan secara undedicated terhadap waktu panen. Akan tetapi jika pengelolaan bersifat dedicated terhadap waktu panen, Ia dapat menyimpan selama tujuh tahun untuk dipergunakan saat kemarau. 
Anggap ada masa peralihan antara musim subur dan musim kemarau, sehingga memungkinkan masa subur menjadi lebih lama beberapa bulan, "mungkin". Permasalahan tersebut dapat dipahami dengan mudah jika rakyat mesir mencukupkan diri dengan makan gandum saja selama kemarau. Sebagaimana diceritakan di dalam Al-Qur'an, agar Yusuf mengkonsumsi sebagian hasil panen pada masa subur, dan sebagian nya lagi di simpan untuk musim kemarau. Akan semakin mudah dipahami dilakukan karena gandum merupakan salah satu bahan makanan yang dapat dikonsumsi meski disimpan dalam waktu yang sangat lama. Perihal ini perlu kemampuan matematika dan pertanian yang sangat mumpuni. 
Namun, apakah masyarakat Mesir kala itu hanya memakan gandum sepanjang tahun ? tentu tidak. "mungkin".

Bagaimana Yusuf mengelola pendistribusian seluruh item bahan pangan ?
Jika diukur skala kebutuhan pangan selama tujuh tahun, maka gudang yang dibuat untuk menyimpan persediaan tentu mega size. Kita dapat berkhayal kira-kira berapa banyak ya kebutuhan gandum rakyat mesir pada zaman nabi Yusuf ?. Saat ini kebutuhan gandum Mesir adalah 10 juta Ton per tahun. jika dikonversikan volume gudang setara dengan 11.000 buah mangkuk soto padang yang bergambar ayam jantan di kali 10 juta. kira-kira volume nya berapa ? anggaplah volume mangkuk soto adalah 375 ml, maka volume gudang lumbung yang dibutuhkan adalah seukuran kubus dengan panjang setiap sisinya 350 m. Ukuran tersebut hanya sanggup menampung gandum yang ditumpuk padat tanpa ruang loh, belum buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, daging-dagingan dan sebagainya. Ditambah lagi musim kemarau tidak hanya setahun, tetapi tujuh tahun, maka ukuran lumbung adalah tujuh kali lipat dari ukuran tersebut. 
Dengan kapasitas lumbung yang luar biasa besar, bagaimana kah Yusuf membuat pengelolaan yang matang sehingga semuanya berjalan dengan efektif dan efisien ? apakah cukup dengan logika-logika sederhana ? tentu tidak menurutku. Aku menghabiskan waktu dua tahun untuk mempelajari dasar-dasar pengadaaan dan persediaan bahan baku di perkuliahan, dan dengan ilmu modern itu belum cukup untuk membuatku mampu memahami formulasi Yusuf dengan time horizon sepanjang itu. Meskipun banyak asumsi yang aku gunakan untuk membuat ukuran-ukuran di atas, namun cukup untuk memberikan gambaran bagi kita, bagaimana cerdasnya Nabi Yusuf dalam mengelola pangan kala itu. 

Jujur saja, masih banyak yang menjadi pertanyaan dalam teka-teki ini, liqo' malam itu benar-benar mengisipirasiku untuk belajar lebih dalam. Hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kita perlu memahami bahwa Yusuf tidak hanya mampu menyediakan bahan pangan untuk negeri Mesir kala itu, tetapi sampai ke wilayah palestina dan sekitarnya. Terbukti dengan datangnya saudara-saudara Yusuf dari negeri nya di wilayah palestina untuk meminta persediaan makanan. Itu juga yang menyebabkan Yusuf bisa bertemu kembali dengan saudara dan ayahnya Ya'kub.

Bagaimana sebenarnya strategi Yusuf dalam menghadapi masalah tersebut ? selama ini kita tahu bahwa mimpi sang Raja yang ditakwil Yusuf menjadi kenyataan, dan Yusuf diangkat menjadi pembesar negara kemudian bertemu kembali dengan keluarganya yang terpisah sejak kecil. Namun kita jarang takjub dengan hal-hal yang sebenarnya sangat sulit dilakukan bahkan oleh orang-orang modern sekalipun.  
Lalu bagaimana bisa hal sebesar itu dapat dikelola oleh orang-orang terdahulu dengan teknologi seadanya ?
Kita jarang mengambil pelajaran dan mengadopsi permasalahan tersebut ke zaman ini sehingga kita menganggap semuanya biasa saja. Al-qur'an yang kita baca tertinggal di tenggorakan, dan pergi menjauhi kita seperti melesatnya anak panah dari busurnya.
Padahal dunia ini selalu berputar. Sejarah akan berulang dan kita diminta mengambil pelajaran dari kisah masa lalu, agar kita mampu menghadapi masalah tersebut di waktu yang lain. 

Bersambung...

Kotak Hitam


Related image
source : Google.com
        Berbalik, menoleh kebelakang.

       Sebuah sikap yang selalu aku fikirkan ketika aku merasa lelah, terlalu capek dan tidak bertenaga. Namun, angan akan tetap menjadi angan jika aku menurut, membeo. Seseorang yang memiliki cita-cita tidak layak bermain tarik ulur dengan dirinya, Semua yang menjadi  harapan haruslah dicintai dan hormati, itulah yang membedakan orang berhasil dan orang gagal. Sehingga ketika kamu memiliki cita-cita, maka sukses atau gagal di tengah jalan adalah pilihan. So simple, kamu lelah lalu berhenti maka kamu pasti gagal, lain cerita jika kamu berjalan dan memaksakan diri meski terseret-seret. Tentunya yang rela memaksakan diri adalah mereka yang tahu apa yang sedang dituju.

       Sekarang masalahnya berbeda, bagaimana jika kamu merasa berjuang namun tidak tahu apa yang sedang kamu perjuangkan. Oh men, kamu terlalu suka bermain-main dengan Black Box, bermain teka teki lalu menyimpulkan tanpa bukti. Memang susah jika kita terjebak di dalam sebuah kotak hitam, kamu melihat orang memasukkan kayu ke dalamnya kemudian keluar menjadi sebuah kursi, namun ketika kau yang memasukkan kayu ke dalamnya yang keluar justru meja, atau bahkan kayu bakar. Maka aku simpulkan, jauhi kotak hitam, kau tidak  akan tahu apa yang terjadi di dalamnya, meskipun kamu sendiri yang memilih untuk memasukkan barang-barang yang kau suka. Masalahnya kamu tidak tahu apa hasil  tindakanmu itu.

       Wah, sehari-hari aku selalu berkutat dengan kotak hitam. Menelisik lebih dalam apa yang terjadi di dalamnya, memahami apa yang mesti dilakukan agar si kotak hitam berjalan sesuai perintah tuannya, aku ambil sebuah lampu dan mengintip dari lubang-lubang kecil untuk menerawang apa yang kira-kira ada di dalamnya. Sebagian orang lebih suka  menerawang saja dari luar, sebagian yang lain memasukkan sepasang kamera kecil dan lampu senter hingga ia lebih leluasa mengenali isi kotak hitam, sebagian lagi bahkan meminjam senter pengecil doraemon dan masuk ke dalamnya. Namun ada juga yang tidak tertarik dengan isi kotak hitam itu, ia justru bahagia dengan teka-teki yang dihasilkan oleh benda itu. Baginya, itulah sisi menarik dari kotak hitam, sesuatu yang sulit ditebak.

      Sebagai orang yang mengintip isi kotak hitam, aku memahami bahwa di dalamnya terdiri dari banyak komponen, banyak fungsi dan banyak sistem kontrol, semua ketidak pastian yang dihasilkan adalah buah dari berbedanya cara setiap orang dalam memasukkan kayu ke dalamnya. Namun pada kenyataannya tidak semua berbeda, ada pola yang bisa dipelajari. Aku namakan dengan distribusi, meskipun tidak pasti setidaknya aku mengerti bahwa itu bukan hal yang tidak bisa dipelajari. Lalu aku menemukan sebuah metode bernama simulasi, dimana aku mencoba meniru pola si kotak hitam, lalu memanfaatkan pola itu untuk menemukan solusi, hingga ketika aku menginginkan kayu menjadi kursi tidak lagi menjadi teka-teki.

      Begitu juga dalam hidup, tidak ada yang salah dalam setiap hasil dan momen kehidupan. Semua tergantung bagaimana kamu memanipulasi kehidupanmu menjadi seperti yang kamu inginkan. Meletakkan parameter keberhasilan dan kebahagian pada dirimu sendiri, bukan pada orang lain. Maka apapun yang kau ingin lakukan, maka lakukanlah, meskipun kau akan bertemu dengan kotak hitam, namun pengalaman akan membuatmu menemukan pola, lalu kau mampu mensimulasi, lalu menentukan aksi. Menuruku itu lebih cerdas dibandingkan terus menerus mengeluhkan hasil kotak hitam yang tidak sesuai dengan harapan.